Ambon, 11 Juni 2026 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Pattimura (Unpatti) melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman multi-bencana di Negeri Hatu, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 25 Mei hingga 11 Juni 2026 ini mengusung tema “Penguatan Ketangguhan Masyarakat Terhadap Multi-Bencana Melalui Edukasi dan Simulasi Kebencanaan”.

Kegiatan PkM ini dilatarbelakangi oleh kondisi geografis Negeri Hatu yang merupakan wilayah pesisir dan perbukitan dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana alam, seperti gerakan tanah (longsor), banjir, abrasi pantai, gelombang ekstrem, gempa bumi, dan tsunami.  Berdasarkan hasil observasi awal dan komunikasi dengan aparat pemerintah negeri, ditemukan sejumlah permasalahan utama, di antaranya rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat terkait mitigasi bencana, minimnya pelatihan dan simulasi evakuasi, serta belum optimalnya kesiapsiagaan dan koordinasi masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat. 

Tim yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Matheus Souisa, M.Si., ini menghadirkan sejumlah dosen ahli dari Program Studi Fisika FST Unpatti sebagai narasumber. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan jenis-jenis bencana dan mitigasinya, mulai dari banjir dan banjir bandang yang disampaikan oleh Alexander Y. Elake, S.Si., M.Sc., hingga gerakan tanah dan sedimentasi yang dipaparkan langsung oleh Prof. Souisa. 

“Kegiatan ini merupakan implementasi dari hasil penelitian kami sebelumnya yang menunjukkan bahwa wilayah Kecamatan Leihitu Barat memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana geologi dan hidrometeorologi. Kami hadir untuk mentransfer ilmu dan teknologi sederhana agar masyarakat mampu mengenali risiko dan melakukan tindakan mitigasi secara mandiri,” ujar Prof. Souisa.

Metode pelaksanaan kegiatan tidak hanya berhenti pada sosialisasi dan edukasi, tetapi juga mencakup simulasi evakuasi bencana. Masyarakat diajak untuk mempraktikkan prosedur evakuasi mandiri, mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul aman, serta memahami langkah-langkah penyelamatan diri sebelum, saat, dan sesudah bencana. 

Selain pelatihan, tim juga memperkenalkan produk dan inovasi sederhana, seperti peta risiko dan jalur evakuasi multi-bencana yang dibuat dengan pendekatan partisipatif, serta sistem peringatan dini berbasis komunitas melalui pemanfaatan kentongan dan grup komunikasi cepat. Media edukasi seperti poster dan buku saku kebencanaan juga dibagikan untuk meningkatkan literasi masyarakat.

Kepala Pemerintah Negeri Hatu menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan ini. Ia berharap program pengabdian ini dapat menjadi model penguatan ketangguhan masyarakat yang berkelanjutan. “Kami sangat terbantu dengan adanya edukasi dan simulasi ini. Masyarakat kami kini lebih paham apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. Kami akan tindak lanjuti dengan membentuk kelompok siaga bencana dan mengadakan simulasi secara rutin,” ungkapnya.

Kegiatan PkM ini sejalan dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan) dan SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim).  Dengan adanya program ini, diharapkan masyarakat Negeri Hatu dapat menjadi lebih tangguh dan adaptif dalam menghadapi berbagai ancaman bencana di masa mendatang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *