Ambon, 26 Mei 2026. Program Studi Fisika kembali menghadirkan seminar monthly dengan narasumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) . Ibu Siti Raudha Kaisuku, observer geofisika berpengalaman dengan latar belakang akademik dari STMKG Jakarta, memaparkan riset bertajuk Penilaian Bahaya Seismik Menggunakan Metode Probabilistik dengan Memperhitungkan Efek Local Site dalam Penerapan Evaluasi Risiko Seismik di Kota Ambon. Bertolak dari pengalaman langsungnya di lapangan selama lima tahun, pemaparan ini menawarkan perspektif yang mempertemukan data operasional BMKG dengan kerangka analisis ilmiah yang terstruktur.
“Kota Ambon memiliki kepadatan kerusakan bangunan yang lebih tinggi dibandingkan Maluku Tengah — meski luas wilayahnya jauh lebih kecil. Ini menegaskan bahwa faktor local site adalah variabel yang tidak bisa diabaikan dalam penilaian risiko seismik.”
Gempa Ambon 2019 (Mw 6,5) menjadi titik rujukan utama dalam analisis ini. Data BMKG mencatat 30 korban jiwa, 151 luka-luka, serta lebih dari 2.600 bangunan rusak yang tersebar di Maluku Tengah, Kota Ambon, dan Seram Bagian Barat. Dengan menggunakan metode Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) dan mempertimbangkan respons tanah setempat, pembicara mengidentifikasi zona-zona dengan percepatan spektral (SA 0,2 g) tertinggi — antara lain kawasan Jembatan Merah Putih, PLTD, dan Markas Militer — yang menunjukkan urgensi penguatan struktural pada infrastruktur vital kota.
Seminar ini memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan lembaga operasional negara dalam agenda mitigasi bencana. Rekomendasi kunci yang disampaikan adalah perlunya evaluasi bangunan mengacu pada probabilitas 2% dalam 50 tahun, khususnya pada wilayah dengan nilai PGA tinggi. Diskusi yang berkembang pasca-pemaparan membuktikan relevansi topik ini bagi mahasiswa fisika, praktisi kebumian, maupun pemangku kebijakan yang berkomitmen pada pengurangan risiko bencana di kawasan Indonesia Timur.